KEBETULAN DAN KEBERUNTUNGAN

percaya ga percaya ya.. kadang2 semua seperti udah ditakdirkan….

Kalau Eddie Adams tidak pernah berada di Vietnam saat itu mungkin dia tidak akan pernah memotret foto eksekusi tahanan Vietkong yang mengantarnya memeraih pullitzer. Di sisi lain banyak peristiwa-peristiwa dahsyat di seluruh muka bumi, entah kenapa James Nachtwey bisa berada di New York tanggal 11 september 2001, memotret sangat dekat dengan gedung WTC yang hancur dihantam pesawat Boeing 767. Cerita lain lagi adalah John Moore yang memotret arak-arakan kembalinya perempuan nomor satu Pakistan, Benazir Bhutto. Hasilnya tak dinyana, foto-foto yang tidak sempurna secara teknis itu adalah saksi mata dunia dari tewasnya Benazir tahun 2008 lalu. Foto- foto yang menggambarkan tragedi dunia itu sungguh menggetarkan. Timbul pertanyaan di benak saya, Apakah mereka hanya “kebetulan” di sana? Kemudian selanjutnya apakah mereka ini kebetulan memotret semua itu?

Mari kita sepakat dengan kata kebetulan, dan hanya kebetulan. Agak sulit dijelaskan secara logis, seperti suasana yang sekejab menjadi kondusif, dan sesuai dengan pengharapan, dan hadir pula unsur diluar kesengajaan. Mungkin agak terlalu jauh menyebut nama-nama diatas tadi untuk dijangkau dalam aktifitas memotret sehari-hari. Sebagian besar dari kita bukan War Photographers yang memotret negara konflik tadi, atau tokoh dunia. Kebetulan juga, dunia fotografi saya dan anda hanya kehidupan sehari-hari, anak-anak, orang biasa, keluarga, tempat wisata, dunia serangga, lansekap, atau keindahan alam. Walau begitu, tanpa mengurangi bobot dan kualitas visual. Foto yang secara teknis sangat baik, visualisasinya pun bagus dan estetis, secara komposisi bentuk garis maupun warna pun banyak tercipta. Lalu apakah ini juga sebuah kebetulan? Bila mengambil teori populer Law of Attraction, foto-foto tadi mewujud dari keinginan kita, alam bawah sadar keinginan kita ingin mendapatkan foto seperti gambaran yang ada dalam referensi visual kita. Dan ternyata hasil yang didapatkan kadang sesuai, tapi juga kadang tidak, sangat relatif karena dalam benak kita ada standar tertentu tentang bahasa visual itu, dan itu pula yang ditangkap apresiator yang juga punya rekaman visual personal juga.

Bila kemudian dua pihak itu menyepakati bahwa rekaman visual itu bisa menimbulkan rasa estetis bagi penikmatnya, maka gambar itu akan dinyatakan sebagai foto yang baik. Lalu adakah ruang untuk sebuah kebetulan di sana? Disaat seseorang yang memotret dengan segala kesiapannya, secara teknis maupun mendayakan kecanggihan alatnya, dengan segala upaya untuk hadir di suatu saat, lokasi, dan berniat untuk mewujudkan imajinasi visualnya? Mungkin bukan sebuah kebetulan , tapi sebuah keinginan yang mewujud, seperti sang gambar yang tercipta karena proyeksi pikiran yang terjadi di saat ruang dan waktu bisa dihentikan (dibekukan) sesuai kehendak kita.

Pikiran adalah kesatuan antara indera, yang merasakan- sensasional, konseptual sekaligus imaginer. Bebas, dan itu tidak bisa dibatasi dengan suatu apapun, kecuali kita mengijinkannya. Bergerak bebas dan menembus batas yang merupakan sebuah kebebasan mutlak. Untuk itulah referensi visual itu bisa berasal dari informasi rekaman yang secara sadar atau tidak tersimpan dalam ruang memori, akan terpicu keluar sebagai reaksi atas sensasi atau imajinasi tadi, mencari kesamaan informasi yang secara fotografis dianggap sebagi momentum, saat yang tepat untuk direkam secara dua dimensional.
Ekspresi adalah wujud dari kemerdekaan dalam berkarya. dengan segala kebebasan yang ada, kita punya kendali penuh, menyadari, menunggu, bahkan menciptakan momentum itu saat rana dilepas, dan sensor perekam cahaya merekam refleksi pikiran itu kedalam wujud dimensi yang bermakna. Sehingga perlu kita tanyakan kembali lebih jauh, masih adakah kebetulan itu? Ketika semua unsur kebetulan dinafikan, tinggallah faktor yang dianggap positif karena cenderung sesuai dengan proyeksi pikiran kita, yaitu keberuntungan. Adapun faktor itupun hanya terjadi bila kita menyambutnya, dengan pengetahuan, skill, wawasan, kreatifitas dan kesigapan. Dengan kata lain, kembali seperti kata bijak “Keberuntungan hanya berpihak pada mereka yang siap.”

Kita memotret dengan segala kemampuan yang ada, dibantu dengan kelebihan dan keterbatasan pencapaian teknologi, yang menjadi kepanjangan tangan dari keinginan untuk berekspresi lebih dari sekedar fungsi merekam saja. Menjadikan fotografi sebagai media belajar yang efektif. Kita telah merekam sejarah, atau perjalanan hidup itu sendiri. Mungkin jajaran karya demi karya yang impresif akan menjadi kenangan yang abadi dalam benak seorang fotografer, yang terus belajar dan berproses. Sebuah karya adalah finalisasi dari sebuah proses panjang yang mengantar kita pada sebuah momentum, yang membuat kita melihat dan memutuskan, kapan harus melepas rana, mengambil kesempatan, dan menciptakan karya.. Dan itu semua bukan sebuah kebetulan.

“Luck is being ready for the chance” – J. Frank Doble

ambil dari id-olympian by tunggul (http://2nggul.multiply.com/)

2 Comments (+add yours?)

  1. dealer pulsa
    Oct 07, 2010 @ 01:09:35

    wah bagus2, minta tambahan lagi dong

  2. Nina
    Jul 08, 2011 @ 14:49:12

    Makasih Untuk Info Alamat dan No Telpnya ,
    Saya Beniat Memasukan Info Alamat BCA ini do Blog Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s